Tuesday, August 7, 2012

Mendengar & Melihat

Aku kini
mendengarnya lewat lagu- lagu yang mungkin tak lagi bersuara
melihatnya dari lukisan- lukisan yang bahkan tanpa gores warna
abstrak atau ilusi kah dia?

Kosong ini sudah biasa melewati terowong hampa
yang ujungnya tak akan tertelan malam, semoga
agar kami masih bisa bertemu , lekas

Aku masih melihat dan mendengarnya ;Indonesia

Lindap

Cerita itu selalu datang beriring senja
setelah upacara penurunan Sang Saka
Ia selalu datang begitu saja
tepat di jantung- jantung yang tak lagi memompa

Di bawah tiang, di halaman -halaman sekolah, di mana saja
Tujuh belas Agustus sore
selalu

Cerita itu,
berjatuhan di bawah kamboja
di pelataran asa yang lindap.

cerita itu,
cerita sedih
masih.

Dari Angkasa Malam


Aku dengar dari  angkasa malam
derap langkah tentara Tuhan
lalu debu- debu putih melapis rembulan

Aku dengar dari angkasa malam
deru doa  bercampur harap
kemudian menggumpal tebal membentuk putih awan

Dijemput kemuning  dan semuanya turun ke bumi pertiwi
Indonesia Raya dinyanyikan , Merah Putih dikibarkan


Langit pagi mtenyaksikannya khidmat, turut

Secuil Kalut


Apa kalian pernah tahu
tentang biji besi yang pada dinding rumah kami kerap mengetuk?
atau
tentang lainnya yang menyelinap dan pada jantung bunda- bunda kami akihirnya merekaberhenti?
atau
tentang punggung ayah- ayah kami yang oleh malam satu persatu dijadikannya tak kembali?
Dan kemudian pagi datang mengembalikan mereka sebnetuk ucapan belasungkawa yang basi.

Dan, secuil kalut ini hanya semacam kecut dari generasi yang demi kalian mereka rela mati.

Thursday, November 3, 2011

ن - ح - ر



Ku-eja terus huruf- huruf itu agar kelak dapat kukenali meskipun rumit terangkai
Di bawah pijar yang selalu menyibukkan jemari mengganti sumbu dan minyak-nya demi nyala
Di dalam ruang tanpa bias awan
Tanpa siang tanpa malam

Di bawah pendar yang kemudian padam olehku
Aku tak ingin mendua antara huruf- huruf itu dengan nyala api
Bukan karena salah satunya berlekuk indah
tapi karena
aku tetap bisa  mengeja huruf- huruf it meski dalam gelap


nuun - haa -raa

Sunday, October 23, 2011

Sekian dari Waktu


Sekian dari waktu dengannya kuraih engkau 
Entah berapa lagi darinya kubutuh untuk menghapus engkau 


Engkau yang pernah satu dengan ketiadaan 
Engau yang pernah satu dengan doa dan munajat
Engkau yang kembali harus kusatukan dengan ketiadaan 


Sekian dari waktu dengannya kupinjam engkau 
Entah berapa lagi darinya kubutuh untuk (ikhlas) meletekkan kembali engkau

Kereta Api


Aku di belakangmu terus mengikutimu .
Dia di belakangku mengikutiku .
Tanpa tahu dia juga mengikutimu 


Mungkin harusnya kau menoleh kepadaku 
agar dia di bealakangku tak terus mengikuti aku 


Atau mungkin harusnya yang di depanmu yang menoleh padamu 
agar aku di bealakangmu tak terus mengikutimu